Tuesday, February 16, 2016
Selamat Datang Gerhana Matahari Total
Friday, May 21, 2010
Menunggu WiMAX (lagi)
Dimulai dengan niat yang luhur dari pemangku kebijakan telekomunikasi (Depkominfo) untuk berusaha menjadikan potensi bangsa ini mandiri dari ketergantungan asing dan memberikan nilai tambah yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa sendiri dalam bidang yang sangat padat modal ini (baca: industri telekomunikasi), maka disusunlah langkah-langkah strategis.
Tuesday, May 18, 2010
Migrasi PSTN ke Next Generation Network (NGN)
Monday, April 26, 2010
Beberapa pendekatan menuju FMC
Dengan FMC, bisa jadi pengguna layanan cukup mempunyai satu nomer telepon yang dapat digunakan untuk layanan fixed maupun mobile serta mempunyai kemampuan "seamless" (apa ya istilah dalam bahasa Indonesia-nya?). Aplikasinya misalnya jika kita sedang melakukan pembicaraan menggunakan fasilitas hotspot di rumah, kita bisa melanjutkan pembicaraan telepon tanpa terputus dan tanpa berganti nomer dan handset jika kemudian beralih menggunakan kendaraan.
Di sisi jaringan akan terjadi integrasi control terhadap jaringan akses baik itu "fixed" dan "mobile" sehingga memungkinkan adanya "sharing" sumber daya yang artinya optimalisasi penggunaan jaringan. Ujung-ujungnya tentu seperti yang diinginkan penyedia layanan adalah pengurangan CAPEX (Capital Expenditur = biaya modal) dan OPEX (Operational Expenditur = biaya operasional).
Thursday, April 22, 2010
Teknologi Seluler: Dari 1G sampai 4G
Untuk mengetahui perbedaan teknologi-teknologi tersebut kita akan melakukan kilas balik teknologi tersebut dari teknologi 1G sampai teknologi masa depan yaitu teknologi 4G.
Friday, April 16, 2010
Kapan kita memasuki era TV Digital?
Tuesday, March 23, 2010
Tips Sederhana Memilih Web Hosting
Dari informasi internet tersebut banyak testimoni-testimoni pengguna di forum-forum, tetapi ini sangat tidak memuaskan karena kita tidak bisa tahu pasti apakah murni testimoni dari pengguna atau justru bagian dari trik promosi perusahaan web hosting.
Friday, March 19, 2010
Akhirnya pindah server ke US
Demikian juga saat mendaftar web JRC ini di salah satu web hosting lokal dan kemudian saya putuskan menggunakan sever IIX karena ada informasi dari perusahaan hosting tersebut jika menggunakan IIX, akses dari user di Indonesia akan sangat cepat dibanding dengan server yang berada di US.
Friday, November 20, 2009
Email akan segera menemui ajalnya?

Judul senada saya temukan di rubrik detikinet hari ini yang memberitakan bahwa antropologis sosial dari University of Kent memprediksi bahwa email akan menemui ajalnya 10 tahun kedepan. Prediksi ini sebenarnya bisa jadi salah atau tidak sepenuhnya benar, tetapi tetap layak untuk kita kaji sebagai bahan refleksi bagaimana pola komunikasi sosial di masa depan.
Kalau kita lihat perkembangan komunikasi saat ini tidak bisa terlepas dari perkembangan internet. Internet publik mulai berkembang secara global pada awal 90-an dengan ditandai layanan "web" yang menjadi favorite. Di masa ini kita sangat akrab dengan browser Internet Explorer, Netscape dan lain-lain dimana kita bisa mencari dan mengakses begitu banyak informasi misalnya melalui layanan search engine Yahoo dll.
Thursday, July 09, 2009
Mengapa JK Gagal?

Saya adalah salah satu yang tidak mendukung JK dalam pemilu 8 Juli 2009, kemarin. Alasannya bukan karena JK. Sejujurnya JK sebagai pribadi adalah sosok yang sangat pantas jadi presiden, dengan kemampuan teknis dan problem solving yang saya kira luar biasa dan sebagai figur yang egaliter sangat diperlukan untuk dimiliki oleh seorang pemimpin Indonesia saat ini. Keberatan saya terutama, orang-orang sekitar JK. WIN sebagai cawapres sangat mengganggu benak saya dan mungkin orang-orang yg tidak memilih JK. WIN sebagai pasangan cawapres kembali mengingatkan kita ke masa orde baru yang traumatis, yang seharusnya sudah harus kita tinggalkan jauh-jauh. Timses JK juga sangat tidak simpatik, coba lihat apa yang diucapakan Ngabalin, Drajat, Indra dan Fuad Bawazir. Komentar yang keluar dari mulut mereka cenderung menghina daripada mengkritik. Bahkan setiap kali saya mendengar Fuad Bawazir bicara, (maaf) terasa mau muntah. Coba bayangkan JK baru jadi capres sudah bertingkah seperti itu, apa yang terjadi jika JK menang??
Disamping itu yang menyebabkan JK sangat rendah suaranya adalah kwalitas Timses-nya yang hanya bermain dengan cara-cara yang konvensional dan cenderung konservatif. Mereka tidak percaya dengan survey yang sebenarnya kalau dilakukan dengan kredibel seperti halnya yg sudah dilakukan oleh Timses SBY adalah input yang baik untuk memperbaiki diri. Alih-alih memperbaiki diri dan introspeksi, tapi justru timses JK jadi reaktif dan membuat survey dadakan melalui lembaga yang abal-abal dengan tujuan untuk mengcounter survey yg dikeluarkan LSI. Terbukti kita lihat hasilnya, sungguh konyol!
Tidak dapat dipungkiri demokrasi modern tidak bisa hanya mengandalkan track record dan kapabilitas kandidat tapi yang tidak kalah penting adalah proses bagaimana mengetahui profil pilihan konstituen dan bagaimana bisa memenuhi ekspetasi massa tersebut dengan sebisa mungkin tidak mengorbankan idealisme. Dan itu semua perlu strategi dan pengelolalaan psikologis massa yang memang sudah tersedia ilmunya. Ini sudah banyak dilakukan oleh negara demokrasi yang lain dan terbukti sangat ampuh pada kasus SBY sekarang.
Terakhir yang tidak kalah penting sebagai penyumbang kegagalan JK adalah tidak solidnya mesin partai akibat fraksional yang ada di Golkar… Anyway, kepada JK saya sampaikan penghormatan atas apa yang telah diikhtiarkan. Untuk mengabdi kepada bangsa ini ada banyak cara lain yang tidak kalah terhormat….
Monday, April 13, 2009
Kesabaran dalam Demokrasi

Wednesday, April 01, 2009
Cara Menghitung Perolehan Kursi DPR dan DPRD

Pemilu sudah dekat, mungkin diantara kita banyak yang belum jelas bagaimana cara menghitung perolehan kursi anggota DPR dan DPRD, artikel dari www.detik.com berikut ini cukup bisa menjelaskan.
Shohib Masykur - detikPemilu
Jakarta - DPR RI memiliki 560 kursi yang terbagi ke dalam 77 daerah pemilihan
(dapil) dengan jumlah kursi bervariasi tiap dapil. Cukup rumit untuk menghitung perolehan kursi masing-masing parpol di tiap dapil. Aturan mengenai tata caranya tercantum dalam Peraturan KPU nomor 15 tahun 2009.
Sebelum menghitung perolehan kursi parpol per dapil, terlebih dulu kita harus menentukan parpol mana yang lolos Parliamentary Threshold (PT) sebesar 2,5 persen dari surat suara sah nasional dan parpol mana yang tidak lolos. Parpol yang tidak lolos PT tidak akan diikutkan dalam hitung-hitungan pembagian kursi.
Kita andaikan, dengan jumlah pemilih tetap kita mencapai sekitar 171 juta, hanya 160 juta di antaranya yang mengunakan hak suaranya. Dari jumlah sekian itu, surat suara sah nasional ternyata berjumlah 150 juta. Dengan demikian jumlah suara yang harus dimiliki parpol untuk lolos PT adalah 2,5 persen dari 150 juta, alias 3.750.000 suara.
Angka 150 juta itu adalah suara untuk 38 parpol. Dengan angka PT 2,5
persen, kita asumsikan hanya 10 parpol yang lolos PT dan berhak diikutkan dalam hitung-hitungan pembagian kursi. Karena harus dikurangi suara parpol yang tak lolos PT, taruh kata suara sah kesepuluh parpol itu adalah 140 juta.
Nah, angka 140 juta ini tersebar ke 77 dapil. Penetapan perolehan kursi parpol harus dilakukan per dapil mengingat jumlah kursi dan jumlah pemilih di tiap dapil berbeda-beda. Sebagai contoh, untuk Provinsi DKI terdapat sekitar 7 juta pemilih dengan 3 dapil, yakni dapil I (Jakarta Timur) yang memiliki 6 kursi, dapil II (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri) yang memiliki 7 kursi, dan dapil III (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan wilayah administrasi
Kepulauan Seribu) yang memiliki 8 kursi.
Untuk mempermudah pengertian tata cara penetapan perolehan kursi parpol, kita akan mengambil contoh dapil Jakarta I yang memiliki 6 kursi dengan jumlah pemilih 1.800.000. Ada 3 tahapan yang akan dilalui dalam penentuan perolehan kursi parpol. Tahapan pertama adalah 100 persen BPP (Bilangan Pembagi Pemilih), tahap kedua adalah 50 persen BPP, tahap ketiga adalah BPP baru dengan cara suara dan kursi sisa ditarik ke provinsi.
Pehitungan tahap pertama
Dalam perhitungan tahap pertama ini, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah mencari BPP. Caranya adalah dengan membagi jumlah suara sah parpol yang lolos PT di suatu dapil dengan jumlah kursi di dapil tersebut.
Untuk dapil DKI Jakarta I misalnya, agar mempermudah penghitungan, kita asumsikan dari 1.800.000 pemilih, suara untuk 10 parpol yang lolos PT adalah 1.200.000. BPP kita peroleh dengan cara membagi angka 1.200.000 dengan angka 6 (jumlah kursi). Ketemulah angka 200.000. Artinya, 1 kursi berharga 200.000 suara. Parpol yang memperoleh 200.000 suara secara otomatis memperoleh kursi.
Kita buat 10 parpol itu bernama A hingga J. Partai A memperoleh suara 150 ribu, partai B 240.000, partai C 70.000, partai D 320.000, partai E 40.000, partai F 70.000, partai G 80.000, partai H 90.000, partai I 30.000, dan partai J 110.000.
Partai yang memperoleh kursi di tahap pertama adalah partai B dengan sisa suara 40.000 dan partai D dengan sisa suara 120.000. Dengan demikian dari 6 kursi, 2 di antaranya telah terbagi, jadi masih sisa 4 kursi. Sisa suara kedua partai tersebut bersama suara 8 parpol lainnya diikutkan dalam perhitungan tahap kedua untuk memperebutkan 4 kursi sisa.
Perhitungan tahap kedua
Pada perhitungan tahap kedua, parpol yang memperoleh sekurang-kurangnya 50 persen BPP akan memperoleh kursi. 50 Persen BPP artinya 100.000. Parpol yang memiliki suara di atas 100.000 adalah partai A, partai D (berasal dari sisa suara perhitungan tahap pertama sebesar 120.000), dan partai J. Dengan demikian 4 kursi sisa perhitungan suara pertama telah terbagi 3 sehingga tinggal 1.
Sebagai catatan, jika jumlah parpol yang lolos 50 persen BPP melebihi jumlah kursi, maka pembagian kursi dilakukan secara ranking. Yang suaranya paling banyak dia lah yang dapat kursi.
Adapun jika terdapat 2 atau lebih parpol yang memiliki suara sama,
sedangkan kursi yang tersedia tidak mencukupi, maka pembagian dilakukan dengan cara diundi. Pengundian dilakukan dalam rapat pleno terbuka KPU. Mengenai mekanisme pengundiannya, hingga saat ini KPU belum menentukan.
Jika pada tahap kedua ini tidak ada parpol yang lolos 50 persen BPP, maka semua suara dan sisa kursi akan dibawa ke perhitungan tahap ketiga dengan cara ditarik ke provinsi untuk digabung dengan dapil lain dan dicari BPP baru per provinsi.
Perlu dicatat, parpol yang memperoleh kursi di tahap kedua ini secara otomatis tidak bisa lagi dibawa ke tahap ketiga. Meskipun suaranya melebihi 50 persen BPP sehingga masih ada sisa, namun sisa ini dianggap hangus.
Perhitungan tahap ketiga
Perhitungan tahap ketiga dilakukan dengan cara menarik seluruh sisa suara dan sisa kursi dari tiap dapil ke provinsi untuk dicari BPP baru. Dalam contoh kasus kita, mengingat di DKI Jakarta terdapat 3 dapil, maka suara sisa dan kursi sisa dari ketiga dapil ini ditarik ke provinsi alias digabung.
Dari dapil I kita telah memperoleh sisa kursi sebanyak 1 buah, sedangkan sisa suaranya sebanyak 420.000 (gabungan dari suara partai C, E, F,G, H, I, dan sisa suara partai B). Kita bermain asumsi lagi, untuk dapil II sisa kursi sebanyak 2 buah dan sisa suara sebanyak 630.000, sedangkan untuk dapil III sisa kursi sebanyak 1 buah dan sisa suara sebanyak 550.000.
Untuk memperoleh BPP baru, gabungan sisa suara harus dibagi dengan
gabungan sisa kursi. Jadi 1.600.000 dibagi 4, sama dengan 400.000. Jadi BPP provinsi adalah 400.000.
Partai yang gabungan suaranya dari ketiga dapil mencapai angka 400.000 akan mendapat jatah 1 kursi. Jika jumlah partai yang lolos BPP baru ini melebihi jumlah kursi, maka pembagian kursi dilakukan secara rangking. 4 Parpol dengan suara gabungan terbanyak akan mendapatkan kursi.
Jika tidak ada yang lolos BPP provinsi ini, maka mekanismenya juga
menggunakan rangking. 4 Parpol dengan suara terbanyak akan mendapatkan kursi.
Jika ada parpol yang memperoleh suara sama, namun jumlah kursi yang ada tinggal 1, maka pembagian kursi dilakukan dengan cara undian. Seperti pada tahap kedua, pengundiannya dilakukan dalam rapat pleno terbuka KPU yang mekanismenya hingga saat ini belum ditetapkan oleh KPU.
Jika sebuah parpol memperoleh kursi pada tahap ketiga ini, lantas di dapil mana dia harus mendudukkan wakilnya? Jawabannya adalah di dapil yang menyumbang suara paling banyak. Sebagai misal, partai H memperoleh 1 kursi di tahap ketiga ini.
Dari dapil I yang kita jadikan contoh, partai ini memperoleh suara 90.000. Sedangkan dari dapil II dia dapat 170.000 dan dari dapil III dia mendapat 190.000 (misalnya). Artinya kursi yang dibagikan ke partai H diambilkan dari dapil III.
Lantas bagaimana jika ternyata di dapil III itu kebetulan tidak ada kursi sisa? Jawabannya adalah diambilkan kursi dari dapil terdekat yang memiliki sisa kursi.
Perhitungan kursi parpol di DPRD
Hitung-hitungan di atas adalah untuk DPR RI. Mekanisme perhitungan untuk DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota lain lagi, namun caranya lebih sederhana.
Untuk DPRD, baik provinsi maupun kabupaten/kota, Parliamentary Treshold (PT) tidak berlaku. Artinya seluruh parpol yang memperoleh suara, berapa pun suaranya, akan diikutkan dalam pembagian kursi.
Perhitungan hanya dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama dilakukan dengan membagi suara sah seluruh parpol di sebuah dapil dengan jumlah kursi untuk ditemukan BPP-nya. Parpol yang lolos BPP ini akan memperoleh kursi.
Perhitungan tahap kedua dilakukan dengan cara ranking. Jika pada
perhitungan pertama masih terdapat sisa kursi, maka sisa kursi ditambah sisa suara yang belum terpakai di perhitungan pertama akan diikutkan dalam perhitungan tahap kedua.
Parpol yang mempunyai suara paling banyak di tahap kedua ini akan
mendapatkan kursi. Jika terdapat parpol dengan suara sama, sedangkan sisa kursi tidak mencukupi, maka penentuan akan dilakukan dengan cara diundi dalam rapat pleno terbuka KPUD setempat.
Kepada caleg mana kursi diberikan?
Setelah seluruh parpol memperoleh jatah kursi masing-masing, barulah KPU menentukan kepada caleg yang mana kursi parpol tersebut diberikan. Dengan merujuk putusan Mahkamah Konstitusi (MK), maka kursi diberikan ke caleg yang memperoleh suara terbanyak dari parpol yang bersangkutan di masing-masing dapil.
Jika di sebuah dapil suatu parpol memperoleh kursi, namun tidak ada
satupun caleg yang memperoleh suara, maka pemberian kursi ditentukan oleh parpol yang bersangkutan. Jika terdapat dua atau lebih caleg yang memperoleh suara sama, sedangkan kursinya tidak mencukupi, maka pemberian kursi juga ditentukan oleh parpol yang bersangkutan.
Wednesday, March 18, 2009
IPTV

Wednesday, January 28, 2009
Imlek & Gerhana Matahari

Siang menjelang sore tanggal 26 Januari 2008 yang lalu bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2560 (Chinese New Year) terjadi fenomena alam yang jarang terjadi, Gerhana Matahari! Cukup beruntung juga saya bisa menyaksikan dengan cukup jelas. Ceritanya siang itu saya dan keluarga jalan-jalan ke Kampung Cina di Kota Wisata Cibubur. Sesampainya di lokasi, ternyata macetnya luar biasa, untuk sekedar jalan-jalan saja sudah sangat tidak nyaman karena begitu banyaknya pengunjung, sehingga kita merasa tidak bisa menikmati suasana meriah itu. Setelah beli pakaian anak (cheong sam) dan makan di restoran depan gerbang kampung cina, kita putuskan segera pulang ke rumah saja.
Waktu masih menunjukan pukul 14.30 WIB, mobil segera meninggalkan lokasi menuju gerbang keluar ke Jl. Raya Ciangsana. Sekitar 4 km dari gerbang tersebut, lalu lintas macet luar biasa dan hampir tidak bergerak. Sekitar pukul 16.30 WIB kita baru sampai di pintu gerbang dengan kondisi lalu lintas yang tetap sama, macet... Kebetulan di mobil saya mendengarkan salah satu radio yang menginformasikan bahwa saat itu terjadi gerhana matahari cincin. Langsung saja saya ambil kamera saku yang memang saya bawa, dengan setting zoom maksimum dan bukaan diafragma dan speed sekecil-kecilnya saya arahkan ke matahari, sayang paparan cahaya langsung ke kamera membuat gambar over exposure (terlalu cerah dan cenderung putih). Kemudian timbul ide untuk mengambil gambar dari balik kaca film mobil yang memang cukup gelap (60%). Voila!! akhirnya gambar yang kita tangkap cukup bagus sehingga momen langka ini bisa kita abadikan. Walaupun tidak terlalu sempurna gambar yang kita ambil, karena ternyata pada saat puncak gerhana yang membentuk cincin kebetulan tertutup awan, tapi kita merasa cukup terhibur di tengah kemacetan yang menggila itu. Peristiwa langkah yang akan terjadi lagi tahun 2016 itu akhirnya bisa jadi kenangan indah di hari pertama tahun baru imlek ini. Gong Xi Fat Cai, semoga di tahun kerbau ini membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi kita semua.
Wednesday, December 10, 2008
Menunggu WiMAX

Tuesday, December 02, 2008
NGN, network masa depan kita

Bagi dunia telekomunikasi dan networking tentu tidak asing dengan istilah ini.. Hampir setiap kesempatan membahas tentang network, istilah NGN selalu mengemuka. NGN adalah singkatan dari Next Generation Network yaitu network yang akan menggantikan network yang ada pada saat ini untuk bisa menanggapi tuntutan layanan masa depan. Dari sini akan timbul banyak pertanyaan yang tidak sederhana. Bagaimana mengganti network yang ada, bagaimana pola migrasinya, pilihan teknologinya, sarana pendukung, interoperabilitas dengan system yang lain, dan tentu business model yang layak diterapkan.
Teknologi memang bisa sangat cepat berubah dan teknologi yang ada menjadi katalisator tumbuhnya teknologi baru, seperti lazim kita dengar bahwa perkembangan peradaban manusia - termasuk teknologi- itu tidak mengikuti deret hitung tetapi deret ukur dan cenderung bergerak dengan besaran eksponensial. Perangkat network yang sebelumnya masih bisa bertahan secara teknologi dan ekonomis selama 10 tahun, sekarang mungkin hanya maksimum sampai 5 tahun saja. Tentu kondisi ini makin menyulitkan pilihan teknologi yang akan diadopsi. Karena itu tantangannya adalah bagaimana migrasi ke NGN dapat sinkron dengan umur teknologi dengan mempertimbangkan besaran biaya yang telah ditanam dan "seamless" dengan pilihan teknologi akhir yang akan dicapai.
Satu-satunya kata kunci yang bisa diacu dalam memilih teknologi NGN adalah konvensi bersama dari komunitas telco maupun IT yaitu "convergence" atau konvergensi. Dalam hal ini adalah konvergensi berlaku untuk platform, layanan dan sarana pendukungnya. Dengan konvergensi ini memungkinkan penggunaan sumber daya bersama yang berdampak pada efisiensi network, kemudahan pengendalian layanan, kemudahan dalam pengembangan dan inovasi fitur layanan dan mempercepat "time to market" fitur-fitur baru.
Secara teknis pilihan teknologi akan mengarah ke IMS (IP Multimedia Subsystem), yaitu suatu model network yang berbasis IP dengan kemudahan penyediaan layanan dengan tidak tergantung pada jenis akses pelanggan. IMS awalnya dikembangkan oleh 3GPP yaitu lembaga yang menyusun stadarisasi W-CDMA sebagai model pengembangan network masa depan. Belakangan IMS ini juga diadopsi oleh ETSI, yaitu lembaga stadarisasi Telekomunikasi Eropa untuk dipakai dalam network PSTN atau dikenal dengan TISPAN. Saat ini standarisasi IMS/TISPAN terus berjalan termasuk harmonisasi antara kedua standard tersebut.
Gambaran besar yang sedang dan akan terus berlangsung adalah bertemunya/konvergensi IT (data/internet) dengan telekomunikasi dalam layanan yang disebut triple-play (data, suara, video). Dengan demikian layanan triple-play ini tentu akan sangat dipengaruhi oleh evolusi yang terjadi dalam dunia IT yang didominasi oleh layanan internet.
Saat ini internet bukan hanya sekedar pertukaran informasi dengan pola client server dengan interaksi terbatas, lebih dari itu telah berubah menjadi media "contents sharing" dan "social networking" dengan pola interaksi yang komplek dimana setiap individu/kelompok adalah agen informasi. Inilah yang disebut fenomena Web2.0. Ini akan terus berkembang. Paralel dengan perkembangan internet tersebut, industri telekomunikasi juga dituntut berubah sebagai konsekuensi dari konvergensi. Wacana yang ada sekarang adalah yang disebut Telco2.0, yang intinya adalah memposisikan industri telekomunikasi untuk bisa suvive dengan paradigma perkembangan di masa depan.
Dalam skala lokal Indonesia, kita melihat belum banyak institusi yang secara nyata mempersiapkan diri di era NGN. PT. TELKOM sebagai institusi utama telekomunikasi, memang sudah mencanangkan visinya yang dikemas dalam tag-line INSYNC2014 atau Indonesia Synchronize 2014 yang tidak lain adalah visi TELKOM dalam era NGN yang diharapkan akan dicapai di tahun 2014. Namun demikian kita masih menunggu langkah-langkah yang lebih kongkrit yang tidak sekedar artifisial belaka.
Mau tidak mau kita sebagai bagian dari masyarakat global kalau tidak ingin tertinggal, harus menyiapkan diri dalam era NGN ini, dimana network dan layanan akan berkembang menjadi bentuk yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Selamat datang NGN!
Saturday, June 23, 2007
Waspadai Kartu Kredit..
Kalau kita sempat mengamati iklan di koran nasional maupun lokal akhir-akhir ini. Begitu terasa dahsyatnya godaan agar kita memiliki kartu kredit A, B, C dst. Segudang kenikmatan hidup ditawarkan hanya dengan menggesek kartu plastik ini. Mulai dari produk handphone dan elektronik sampai makan di restaurant bahkan kebutuhan pelesir atau tour ke bali maupun ke disneyland di hongkong tak lupa ditawarkan. Tentu dengan janji-janji manis cicilan super ringan s/d 1 tahun, seringkali dengan bunga 0%, jaminan uang kembali (cash back), discount sampai 50% jika kita pakai kartu kredit dan tidak ada discount jika cash... dst.. dst..
Tak heran banyak kartu kredit dikoleksi memenuhi dompet dan jadi kebanggaan tersendiri saat buka dompet di depan kasir. Ini fakta yang saya lihat di mall-mall di Jakarta, mungkin juga di kota-kota besar lain.
Saya sempat berfikir bahwa tawaran menggesek kartu kredit itu begitu menarik dan layak dipertimbangkan. Tapi prinsip kehati-hatian dan berfikir panjang adalah hal yang harus diperhatikan kalau kita akan menggunakan kartu sakti ini.. Katakanlah bunga 0% dengan masa cicilan sampai 1 tahun, kalau kita memang belum punya uang cash cukup tetapi berniat memiliki barang yang ditawarkan dengan cicilan metode ini, yang pertama kita pertimbangkan apakah memang tidak bisa ditunda sampai kita punya uang cash cukup. Seandainya tidak bisa ditunda, apakah saat kita sudah memperoleh barang tersebut dengan cicilan, seberapa jauh kita tidak akan menginginkan barang yang sama dengan model yang baru. Jangan sampai kita menjadi bosan dan menginginkan barang yang baru, padahal cicilan masih belum habis, tentu kita akan menjadi tersiksa selama masih ada sisa kewajiban kita sampai waktu lunasnya cicilan.
Dalam kasus lain, lebih sering cicilan tetap masih menggunakan bunga tetap yang walaupun dianggap "ringan", katakanlah salah satu bank menawarkan 1,67% sebulan, bandingkan dengan bunga kartu kredit reguler yang 3,25% sebulan. Tapi harus diingat 1,67% itu adalah bunga flat sedang 3,25% adalah bunga efektif. Saya sempat membuat perhitungan dengan membandingkan kedua metode bunga tersebut. Ternyata bunga efektif 3,25% memberikan cicilan yang lebih ringan dibandingkan bunga flat 1,67% tersebut! Justru dengan menggunakan bunga efektif, kita punya kesempatan melunasi lebih cepat jika kita memang menginginkannya tanpa menanggung sisa bunga, dan ini tidak bisa dilakukan dengan cicilan bunga flat! Produk cicilan tetap ini tentu 'gimmick' yang sengaja dibuat untuk 'menjual' kartu kredit.
Untuk kasus tawaran discount jika menggunakan kartu kredit, bisa jadi memang tawaran yang cukup menarik. Bayangkan jika kita lagi jalan-jalan bersama keluarga dan ingin makan di pizza hut yang menawarkan discount 15% jika kita menggunakan kartu kredit keluaran bank tertentu. Kalau kita normalnya dengan cash harus mengeluarkan Rp 200,000, tetapi dengan discount kartu kredit tersebut kita bisa hemat Rp 30,000 sehingga cukup bayar Rp 170,000. Menarik bukan? Namun tetap harus diingat, penggunaan kartu kredit secara psikologis akan memberikan perasaan selalu 'mempunyai' uang dan kalau kita tidak bisa mengatur pengeluaran dan disiplin diri yang ketat, tidak jarang saat jatuh tempo, cicilan kita bayar nilai minimumnya saja bahkan kondisi terparah kita akan terjerat hutang bunga berbunga dan berurusan dengan debt collector dan ini namanya berawal nikmat, berakhir bencana...
Dalam era sekarang ini memang mempunyai kartu kredit untuk kalangan tertentu adalah sesuatu yang bisa jadi adalah suatu kebutuhan. Saya sendiri mempunyai 2 kartu kredit, satu keluaran institusi bank multinasional dan satu lagi keluaran bank lokal. Tetapi saya sangat membatasi penggunaan kartu plastik ini untuk kebutuhan tertentu, misalnya jaminan saat kita menginap di hotel-hotel tertentu, atau dalam keadaan darurat saja. Atau kalau memang saya gunakan untuk kebutuhan barang konsumsi, apalagi dengan tawaran discount seperti di atas, sebelumnya saya yakinkan dan komitmen untuk secepatnya harus kita lunasi sebelum jatuh tempo.
Ya akhirnya Kartu Kredit memang ibarat pedang bermata dua, kalau kita 'smart' menggunakannya tentu menguntungkan, tapi bila kita lalai menggunakannya, yang datang adalah bencana. Waspadalah!
Thursday, June 21, 2007
Oh E90!

Memang sepertinya dari lebih seribuan orang yang rela antri tersebut bukan semua sebagai pengguna akhir, sebagian adalah para pedagang di pusat-pusat handphone di ibukota, bahkan mungkin dari luar Jakarta yang memanfaatkan eforia ini untuk menggaet untung besar sebelum HP ini benar-benar tersedia resmi dipasaran. Terbukti beberapa hari kemudian, ketika saya iseng tanya ke salah satu penjual HP di Mal Ambasador Kuningan, HP ini telah ready stock dengan harga 18jt, Wow!
Mengapa sampai sefenomenal ini? Tak tahu pastilah sebabnya.. Salah satu hipotesa adalah gaya hidup hedonisme yang melanda sebagian (besar?) dari masyarakat kita, dimana penampilan, kosmetik adalah hal yang begitu penting. Benda ini menjadi lambang status sosial, memberikan rasa percaya diri dan kebanggaan bagi pemakainya, bahkan mungkin fitur canggih yang dibawanya tidak kelewat penting dibandingkan kosmetik itu tadi, tentu dengan tanpa menafikan kalangan tertentu terutama kalangan profesional yang memang benar-benar memanfaatkan fitur-fitur nan canggih itu.
Kalau hipotesa ini benar, ini cermin prilaku masyarakat dan gaya hidup masyarakat kita yang sangat memprihatinkan. Kalau kita ingin maju sepatutnya kita mencontoh gaya hidup masyarakat di negara-negara asia lain yang lebih maju, misalnya China yang sudah berada di jalur cepat dari negara terbelakang menjadi pemain utama dunia. Mereka lebih mementingkan isi daripada kulit/penampilan. Pengalaman saya ketika bertemu dengan profesional-profesional mereka di China. Penampilan mereka sangat sederhana, tanpa jas dan dasi seperti kebanyakan profesioanal kita di Jakarta. Untuk masalah HP misalnya, mereka cenderung menggunakan HP secara fungsional bukan mementingkan fitur yang canggih atau tampilan. Ini mungkin sebabnya HP nan penuh fitur canggih sejenis N90 ini hanya popouler di Indonesia, tidak di China atau negara lain..
Change your mind, be a winner
--------
"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yangbergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)." Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya,"ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakanIndosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Ditengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkanuang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Sayamenunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkanuang Rp 100.000. Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Sayaulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius.Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya darisandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibumenyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan,dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang majudari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segeramenghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisisebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekaranghanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya.Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itudisentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengankeragu-raguan. Semua audiens tertegun. Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatapwajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawamelihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Iapun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya.Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak,"Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudahmenjadi miliknya." Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kayaRp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, takbergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuahkesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan: "Saya pikir Bapak cuma main-main ............""Nanti uangnya toh diambil lagi.""Malu-maluin aja.""Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!""Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu .....""Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya....""Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas.....""Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang.........""Saya, kan duduk jauh di belakang..."dan seterusnya. Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan merekasehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity(kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kitatidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Sayajadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumahsakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dankeluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masadepan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orangtidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkanteman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai"gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya.Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah iamerasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja....ini kan gara-garasaudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila.Mereka itu semua sakit.....". Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?" "Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkanSaya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalumengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari kehari.....," katanya penuh semangat." Saya pun mengangguk-angguk. Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dansebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkinbenar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kitatak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan halyang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang.Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanyadengan omongan saja. Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi takbanyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan sepertimenjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisamenghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yangmenjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalaupemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akandestruktif. "Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkanorang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif,bergerak, memulai, dan seterusnya."Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just doit!"Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh olehorang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalamrapat dan cuma membuat peraturan saja."Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedarstruktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yangaktif, berinisiatif dan berani maju. Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata JackCanfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakanantara winners dengan losers adalah :"Winners take action...they simply get up and do what has to bedone...". Selamat bergerak!Rhenald Kasali
Friday, June 08, 2007
Tips dari Adam Khoo
Resepnya cukup menarik untuk jadi acuan...
The Strategies To Wealth Creation!
Is there a formula for wealth creation?
Do all self-made millionaires take the same steps to amass their fortunes?
If we were to do an in-depth study of how self-made millionaires think and act, would we find some common clues that we can learn from?
The answer is yes.
These are seven essential steps, each one representing a wealth creating skill that all self-made millionaires possess and practice:
Step 1: Adopt the Million-Dollar Mindset
Step 2: Set Clear Financial Goals
Step 3: Create A Financial Plan
Step 4: Massively Increase Your Income
Step 5: Manage Your Money & Reduce Expenses
Step 6: Grow Your Money at Millionaire Returns
Step 7: Protect Your Fortune
So there you have it, these are the seven steps that you must take towards financial abundance. I believe that if you were to take just these 7 steps today and apply them prodigiously right now, you'll see instant results.








